Hama Kaper-Ulat Mengganas

By radarmadiunweb - Sun Oct 28, 4:56 pm

SIDOREJO – Sejumlah petani di Desa/Kecamatan Sidorejo terpaksa memanen lebih dini. tanaman kubisnya. Itu setelah sepekan terakhir terserang hama kaper dan ulat hingga menyebabkan tanaman berlubang dan busuk. ‘’Biasanya usia 75 hari baru dipanen. Tapi karena kena hama, 60 hari sudah dipanen,’’ terang Suparno, salah seorang petani, kemarin (27/10).

Langkah memanen dini itu dilakukan, agar petani tidak merugi terlalu banyak. Sebab, jika dibiarkan, bagian kubis yang bolong semakin menyebar hingga daun yang terbuang pun semakin banyak. ‘’Dalam seminggu, penyusutan bisa satu ton,’’ ungkapnya.

Menurutnya, serangan kaper kali ini tidak bisa dikendalikan dengan pestisida, Terbukti, dua kali penyemprotan yang dilakukan tidak membuahkan hasil. ‘’Sudah dua kali disemprot pestisida, tapi hamanya tak mau hilang,’’ ungkapnya.

Jika panen normal dan tidak terserang hama, kata dia, sawahnya bisa menghasilkan enam hingga tujuh ton sayur kubis. Namun panen terakhir, hanya sekitar lima ton. ‘’Kalau (hasil panen menyusut) satu ton diperkirakan rugi Rp 3 jutaan,’’ ungkapnya.

Wirno, petani lainnya, menyebut harga kubis kualitas bagus di tingkat tengkulak saat ini Rp 3,5 ribu perkilogramnya. Sedangkan harga kubis yang terserang ulat dan kaper hanya dihargai Rp 3 ribu. ‘’Kalau kaper dan ulat itu sulit (membasminya),’’ ujarnya.

Dia meminta Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura segera turun tangan memberikan sosialisasi ke petani cara efektif mengatasi hama kaper dan ulat. ‘’Belum ada PPL yang turun memberikan sosialisasi, ini obatnya apa, bagaimana cara mengendalikannya, tidak ada sama sekali,’’ kata pria 60 tahun itu. (pra/isd)

Leave a Reply