Pacar Korban Pembunuhan Dikubur di Kamar

By radarmadiunweb - Thu Feb 14, 4:39 pm

JETIS – Teka-teki menghilangnya Suprihatin, 23, pacar Krisnanda Mega Pratama, 27, mahasiswa yang tewas dibunuh ayahnya sendiri, terjawab sudah. Suprihatin kemarin (12/2) ditemukan sudah menjadi mayat terkubur di lantai kamar rumah Mega di Desa Karanggebang, Jetis, Ponorogo. Mega adalah anak Eko Budianto, 52, mantan Kades Karanggebang yang kini ditahan di Polres Ponorogo.

Kondisi jasad Mega ketika ditemukan sudah amat mengenaskan. Ada 27 luka tusukan benda tajam nyaris di sekujur tubuh bagian belakang gadis asal Tegalombo, Kauman, Ponorogo itu. Enam tusukan di bagian kepala, tiga di leher, dan 18 luka di punggung hingga pantat. Selain luka tusuk, tim medis RSUD dr Harjono Ponorogo merujuk luka akibat pukulan benda tumpul pada pelepis kanan sarjana pendidikan itu. ‘’Dugaan kami, korban dipukul dulu baru ditusuk-tusuk,’’ kata Wakapolres Ponorogo Kompol Kompol Tri Saksono Puspo Aji, kemarin.

Polisi yang melakukan bongkar mayat di kamar berukuran 3×4 meter persegi itu sempat geleng-geleng. Sebab, pembunuh Suprihatin dengan sadis mengubur korbannya di lubang
sedalam 60 sentimeter lantas dicor semen. Begitu permukaan semen digali, ada tangan perempuan menjulur dari dalam tanah. Polisi terus menggali dengan lebar lebih luas lantaran memastikan korban dikubur dalam posisi berbaring. ‘’Masih berpakaian lengkap tanpa dikafan,’’ terang Puspo Aji.

Mayat Suprihatin yang diduga dikubur akhir Januari lalu mulai membusuk kendati masih utuh. Korban diduga kuat dihabisi di dalam kamar itu juga. Pembunuhnya tampak tergesa-gesa mengubur hingga tidak peduli kaki korban tertekuk. ‘’Dari percikan darah yang ada, kemungkinan korban dieksekusi di kamar dan langsung dikubur,’’ jelas wakapolres yang kemarin memimpin langsung pembongkaran mayat.

Penemuan mayat Suprihatin berawal dari kecurigaan penyidik Sat Reskrim Polres Ponorogo saat mencari bukti tambahan kasus pembunuhan Mega dengan tersangka Eko Budianto, ayahnya sendiri ini. Saat menggeledah kamar, ditemukan baju berlumur darah. Di dinding kamar yang berada di belakang rumah itu didapati percikan darah kering. Polisi akhirnya menyingkap kasur yang diletakkan di atas lantai kamar dengan alas karpet hingga menemukan gundukan tanah dilapis semen seluas 1 meter persegi. ‘’Pengungkapan kasus ini murni berangkat dari kejelian penyidik kami saat olah tempat kejadian perkara mencari barang bukti,’’ terang Kompol Puspo Aji.

Pencarian polisi akhirnya juga menemukan linggis berlumur darah kering. Selain itu, juga baju dan celana pria yang terdapat bercak darah. Penemuan mayat Suprihatin itu seakan ikut menjawab pertanyaan mengapa Mega selama ini memilih tidur di luar rumah daripada di kamarnya sendiri ‘’Semua barang bukti kami kumpulkan untuk proses penyelidikan lebih lanjut,’’ ungkap wakapolres.

Pamit Servis Laptop, Mega Diduga Terlibat
KEMATIAN tragis Suprihatin,23, membuat keluarganya shock. Apalagi, pihak keluarga mengira sarjana pendidikan yang baru saja menjalani wisuda akhir Desember lalu itu bepergian ke Surabaya untuk mencari pekerjaan. Sunarto, 55 dan Murtini, 50, orang tua korban, kemarin (12/2) langsung pingsan begitu mendengar kabar Suprihatin ditemukan tewas terkubur di kamar Krisnanda Mega Pratama, pacarnya.

‘’Hingga tadi pagi keluarga masih berkeyakinan kalau Suprihatin akan segera pulang. Tidak tahunya pulang dalam kondisi seperti itu,’’ terang Bonari, 42, keluarga korban saat menunggu otopsi di RSUD dr Harjono, kemarin.

Suprihatin kali terakhir meninggalkan rumah naik motor Honda Kharisma nopol AE 6313 SD, pada 28 Januari lalu sekitar pukul 09.00. Bungsu dari tiga bersaudara itu pamit kepada orang tuanya hendak servis laptop ke Somoroto. Namun, Suprihatin tak kunjung pulang hingga motornya ditemukan di penitipan kendaraan Terminal Seloaji, dua hari kemudian. ‘’Kami minta ke petugasnya kalau ada yang mengambil motor itu menghubungi kami, ternyata Sabtu-nya (2/2) motor itu diambil Mega,’’ ungkap Bonari.

Kepada Bonari, Mega saat itu mengaku disuruh Suprihatin mengambil motor. Mega berkilah jika Suprihatin sedang ke Surabaya mencari pekerjaan. Keluarga saat itu merasa tenang dan sempat meminta KTP Mega sebagai jaminan. Pun, Mega akhirnya ditemukan terbunuh dan mayatnya dibuang ke Kali Keyang, Rabu (6/2) sore. ‘’Yang kami cari itu Suprihatin, bukan motornya. Kami berharap orangnya cepat pulang,’’ jelas Bonari.

Suprihatin semasa hidupnya belum pernah mengajak Mega dolan ke rumah. Menurut Linda, teman kuliah Suprihatin, mengaku terakhir kali berkomunikasi pada 28 Januari lalu. Linda juga jarang melihat Suprihatin jalan bersama dengan Mega karena keduanya beda angkatan dan beda jurusan. Kalaupun saling kenal, dikarenakan keduanya aktif di salah satu organisasi di kampus. ‘’Suprihatin anaknya baik, tidak macam-macam, dan aktif dalam kegiatan kampus,’’ kenang Linda.

Penemuan mayat Suprihatin memunculkan misteri baru. Polisi menduga terbunuhnya Mega dan Suprihatin saling terkait. Suprihatin dibunuh lebih dulu baru kemudian Mega menyusul kemudian. ‘’Dugaan kuat itu pembunuhan berantai. Tapi siapa pelakunya dan apa motifnya masih kami dalami,’’ terang Wakapolres Ponorogo Kompol Tri Saksono Puspo Aji.

Kaitan tersangka Eko Budianto dengan tewasnya Suprihatin, menurut di, cukup kuat. Sebelum membunuh Mega, Eko mengaku mengetahui anak lelakinya bertengkar dengan Suprihatin. Janggal jika Eko tidak mengetahui aksi pembunuhan Suprihatin karena terjadi di rumah yang ditinggalinya. ‘’Menggali kubur itu butuh waktu yang lama, bohong kalau tersangka tidak mengetahui,’’ ungkap wakapolres.

Kuat dugaan, Suprihatin dieksekusi berdua oleh bapak dan anak itu. Lantaran khawatir Mega buka mulut, Eko memutuskan menghabisi anaknya sendiri. Soal motif pembunuhan, kemungkinan pelaku ingin menguasai handphone dan laptop korban. Mega belakangan juga ingin menggadaikan motor Honda Kharisma milik Suprihatin. (dhy/hw)

Leave a Reply