Lagi, Jalur Pacitan–Ponorogo Putus

By radarmadiunweb - Mon Apr 22, 10:07 am

TEGALOMBO – Lagi dan lagi, jalur Pacitan–Ponorogo terputus akibat bencana tanah longsor. Seperti yang terjadi Sabtu sore (20/4) hingga kemarin (21/4). Puluhan bus, mobil pribadi, dan sepeda motor dari arah Pacitan maupun Ponorogo tertahan di Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo. Gara-garanya, jalan penghubung antarkabupaten itu tertimbun tanah longsor.

Tebing berketinggian sekitar 25 meter di sisi jalan amblas setelah diguyur hujan deras. Material longsor berupa tanah dan batu menutup jalan sepanjang 50 meter. Tak urung, UPT Bina Marga Jatim di Pacitan menerjunkan satu unit wheel loader ke titik tersebut. Tapi, pengerukan tidak segera membuahkan hasil maksimal. Sebab, tebing di sebelah jalur provinsi itu terus rontok. ‘’Saat sudah bersih, jalan kembali tertutup tanah longsor. Arus lalu lintas kembali macet dan ini terjadi beberapa kali,’’ jelas Purwanto, Kepala UPT Bina Marga Provinsi Jatim di Pacitan

Menurut Purwanto, hal itu tak luput dari kondisi tebing yang relatif tegak. Selain itu, kontur tanah yang labil. Maka, di saat terus menerus terguyur hujan akan kembali amblas. ‘’Apalagi, humus (tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon) masih melapisi tanah berbatu di tebing itu. Di saat bagian bawah longsor yang atas akan ikut rontok,’’ terangnya kepada Jawa Pos Radar Pacitan.

Kondisi tersebut diperparah dengan lambannya satuan kerja (satker) terkait di Pemkab Pacitan yang tak kunjung membangun infrastruktur penahan tebing yang rentan amblas tersebut. ‘’Upaya kami baru sebatas membersihkan jalan saat tertutup (material) longsoran,’’ jelas Purwanto.

Dengan fenomena itu, pihak UPT Bina Marga Provinsi Jatim tak bisa berbuat banyak. Upaya menahan tebing longsor dengan teknis penyemprotan semen baru bisa dijalankan saat tanah mengeras. Paling cepat, langkah itu bisa dilangsungkan saat musim kemarau nanti. Karena itu, tebing di wilayah Desa Ploso sudah berungkali amblas selama dua bulan terakhir. ‘’Sudah tujuh kali terjadi (longsor). Dan Sabtu kemarin yang paling parah,’’ tutur Purwanto.

Sementara, di saat tanah longsor terjadi Sabtu hingga Minggu kemarin, sejumlah warga setempat berinisiatif mengatur arus lalu lintas. Di saat tebing mulai rontok, mereka menghentikan kendaraan yang hendak melintasi titik longsor tersebut. Dalam aksi itu mereka juga meminta sumbangan sukarela dari para pengguna jalan. ‘’Baru kali ini kami minta sumbangan. Karena, kemacetannya paling lama dari longsor yang terjadi sebelumnya,’’ jelas Anton, salah seorang warga. (fik/eba)

Leave a Reply