Protes Remunerasi, Tenaga Medis Mogok

By radarmadiunweb - Fri Apr 19, 4:07 pm

CARUBAN – Tak puas dengan besaran remunerasi atau jasa insentif yang diterima, puluhan tenaga medis dan dokter di RSUD Caruban mogok kerja, kemarin (18/4). Sejak pukul 11.00 WIB, mereka berkumpul di ruang tunggu rawat jalan, dan meninggalkan tempat kerja masing-masing. Pantauan Jawa Pos Radar Madiun, sejumlah ruang rawat inap terlihat kosong tanpa petugas medis. ‘’Remunerasi yang kami terima setiap bulan nggak nyucuk dengan biaya transpor. Masak, remunerasi untuk dokter umum maksimal Rp 500 ribu per bulan,’’ ujar salah seorang dokter umum RSUD Caruban yang enggan disebut namanya, kepada Jawa Pos Radar Madiun, kemarin (18/4).

Dia menyebut ada ketidakadilan pemberian jasa insentif dokter dan perawat, dibandingkan yang diterima jajaran manajemen. Sebab, nilainya dinilai terlalu kecil dan tidak sesuai tanggungjawab kerja yang dibebankan. Misalnya, unsure jasa insentif yakni dana kesejahteraan atau KS, untuk dokter umum Rp 179 ribu per bulan. ‘’Itu terlalu kecil, masak dana kesejahteraan yang saya terima kalah dari pembantu rumah tangga. Padahal, risiko tertular penyakit saat penanggan medis cukup tinggi bagi kami,’’ paparnya.

Dokter perempuan itu mengakui, setiap bulan dia bersama tenaga medis tidak hanya menerima gaji bulanan. Tapi juga jasa insentif yang bersumber dari jasa medis pasien umum, Askes, jamkesmas, SKTM dan KS. Meski jasa insentifnya beragam, penerimaannya tidak lebih dari Rp 500 ribu untuk dokter umum, sedangkan dokter spesialis maksimal Rp 1,2 juta.

Informasinya, remunerasi yang diterima jajaran manajemen seperti kasi, kabid hingga direktur berlipat-lipat lebih tinggi dibandingkan para dokter dan tenaga medis lainnya. ‘’Ini bisa memicu ketidakadilan, masaka dokter hanya sebagai sapi perahan, sedangkan yang lain menerima lebih banyak. Untuk memenuhi kebutuhan, kami lebih banyak bergantung pada praktik di luar dibandingkan sebagai dokter PNS,’’ ungkap.

Salah seorang dokter yang mengaku sudah belasan tahun mengabdi di RSUD Caruban menambahkan, sebagai dokter senior insentif yang diterima tidak lebih dari Rp 223 ribu tiap bulan. ‘’Kasihan dokter yang masih muda-muda, jalan mereka masih panjang. Seharusnya ada penyesuaian remunerasi,’’ katanya.

Tapi, aksi para dokter dan tenaga medis itu tidak mengganggu pelayanan, karena mereka berkumpul setelah pasien rawat jalan berkurang. Para dokter dan tenaga medis ini berdalih masih punya hati nurani dan tidak ingin menelantarkan pasiennya. ‘’Apapun, kami sudah disumpah. Jadi kami tetap pakai nurani, nggak mungkin menelantarkan pasien, makanya aksi ini kami lakukan setelah melayani pasien,’’ terangnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Caruban, drg Farid Dimyati mengatakan, aksi kumpul para dokter di ruang tunggu layanan rawat jalan bukan mogok kerja. Dia berdalih, pihak manajemen memang menggundang mereka untuk berdiskusi, membahas remunerasi. ‘’Ini bukan demo, tapi kami undang berdiskusi soal aturan jasa pelayanan. Dan ini hal dinamis kok. Pemberian jasa pelayanan nggak ngawur, ada aturannya,’’ terangnya.

Sekitar pukul 11.45, Farid memasuki ruang pertemuan diikuti sejumlah perawakilan dokter dan tenaga medis. Sayang, wartawan tidak bisa masuk ke ruang pertemuan. Sekitar pukul 14.00 WIB, pertemuan usai. Menurut Farid, pihak rumah sakit mengakui Perbup Nomor 36/2010 tentang pemberian insentif perlu direvisi. Karena sudah tidak sesuai dengan jumlah pegawai dan tenaga medis yang terus bertambah. ‘’Seharusnya aturan tersebut diganti secara priodik tiga tahun sekali,’’ katanya.

Dia mengakui, belum ada jumlah nominal remunerasi yang disepakati dalam pertemuan tersebut. Hanya, disepakati untuk membentuk tim perumus remunerasi. Nantinya, tim ini beranggotakan setiap unit yang ada di rumah sakit. Mereka bertugas untuk menghitung remunerasi dan tarif layanan medis di RSUD Caruban. ‘’Menghitung remunerasi itu ada ilmu dan rumusnya, makanya kami bentuk tim. Yang jelas, perumusuan ini tidak hanya untuk remunerasi, tapi juga tarif jasa layanan yang lain. Kami juga memastikan, remunerasi yang diberikan RSUD Caruban sebenarnya lebih tinggi dibandingkan rumah sakit lainnya,’’ katanya. (aan/irw)

Leave a Reply