Jejak Pembunuh Masih Gelap

By radarmadiunweb - Mon Jul 15, 7:13 am

KOTA – Pelaku pembunuhan sadis terhadap Frista Fransiska (bukan Rizta), pelajar SMKN I Ponorogo, warga Dusun Jejeruk, Desa/Kecamatan Kauman hingga kemarin (14/7) masih gelap. Penyidik Sat Reskrim Polres Ponorogo masih belum menemukan titik terang siapa pembunuh gadis yang sedang hamil tujuh bulan tersebut. Minimnya saksi dan bukti menjadi penyebab penyidik sulit menemukan pelaku pembunuhan sadis itu. ‘’Kami masih berupaya mencari pelaku dengan mengumpulkan berbagai bukti dan keterangan yang ada,’’ terang Kapolres Ponorogo, AKBP Iwan Kurniawan, kemarin (14/7).

Hingga kemarin, penyidik telah memintai keterangan beberapa orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban. Di antaranya Saptoni, 43, yang tak lain bapak korban. Saptoni dimintai keterangan penyidik seputar aktivitas Frista sebelum ditemukan tewas Jumat malam lalu (12/7). Juga orang-orang sering berhubungan dengan korban. Selain Saptoni, penyidik juga memintai keterangan beberapa teman lelaki korban. ‘’Masih belum ada titik terang. Sekarang kami sedang fokus mencari teman yang memiliki hubungan khusus dengan korban,’’ kata Iwan.

Orang nomor satu di jajaran Polres Ponorogo itu mengaku tak mudah menemukan teman yang memiliki hubungan khusus dengan korban. Pasalnya, orang tua maupun teman dekat korban tak ada yang mengenalnya. Usaha penyidik untuk membuka akun jejaring sosial facebook dan BlackBerry milik korban juga belum membuahkan hasil. Sebab, ada beberapa nama pria yang diduga memiliki hubungan khusus dengan korban. Namun, pria yang diduga memiliki hubungan khusus itu belum diketahui alamatnya. ‘’Ada beberapa nama yang dicurigai, tapi kami masih mencari orangnya,’’ jelasnya.

Sementara Saptoni, bapak korban mengaku dirinya tidak tahu menahu tentang kehamilan anaknya itu. Juga siapa lelaki yang menghamili anak semata wayangnya tersebut. Saptoni mengaku mengetahui anaknya hamil dari hasil otopsi tim medis RSUD dr Harjono. ‘’Frista tidak pernah cerita kalau hamil dan saya juga tidak tahu menahu. Hanya saja, awal puasa dia cerita jika berat badannya naik tiga kilogram,’’ katanya kepada wartawan Jawa Pos Radar Madiun.

Ditanya soal pacar anaknya, Saptoni mengaku juga tidak tahu. Hanya saja, dia pernah mengetahui ada dua pria yang pernah menjemput anaknya di rumah. Pertama, lelaki itu mengaku berasal dari Sampung. Dia datang menggunakan motor bebek jenis matik. Pria yang kira-kira berusia sekitar 20 tahun itu menjemput anaknya sekitar dua bulan lalu. Selain pria asal Sampung itu, empat hari jelang puasa lalu juga datang seorang pria mengendarai motor Yamaha V-ixion. Pria itu mengaku berasal dari Mlilir Madiun. ‘’Saya lupa namanya, yang pasti dia mengaku dari Sampung dan Mlilir. Lelaki itu datang menjemput dan mengantarkan pulang juga,’’ ujar Saptoni.

Dalam penyidikan kasus pembunuhan itu, penyidik sudah mengamankan beberapa barang bukti. Di antaranya satu sandal jepit warna hitam yang diduga milik pelaku. Sandal yang hanya satu sisi itu ditemukan di warung es degan yang merupakan lokasi pembunuhan. Selain itu, aparat juga menemukan belasan helai rambut yang ditemukan dalam genggaman tangan korban. Diduga, rambut itu milik pelaku yang berhasil dijambak korban. Sebelum tewas, diduga korban melakukan perlawanan sehingga berhasil menjambak rambut pelaku hingga lepas. ‘’Bisa jadi rambut itu dijambak korban saat tubuhnya ditusuk pelaku, sehingga masih tersisa dalam genggaman sampai meninggal,’’ kata salah seorang penyidik. (dhy/eba)

Leave a Reply